Tampilkan postingan dengan label Dunia IT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia IT. Tampilkan semua postingan

Industri IT Indonesia Contohlah China!

Kamis, 04 November 2010

Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika Basuki Yusuf Iskandar mengatakan, pelaku industri teknologi informasi lokal belum dapat memanfaatkan peluang pasar yang tinggi untuk mengembangkan usaha mereka. Padahal, Indonesia, negara terpadat keempat di dunia, memiliki peluang untuk menjadi pemain utama di bidang industri teknologi informasi.

Hal ini disampaikan Basuki dengan merujuk fakta bahwa setiap pameran teknologi informasi selalu diminati pengunjung. Nilai transaksi yang diraih pada setiap pameran teknologi informasi juga cukup tinggi. "Kita belum bisa disebut negara produsen ICT. Kita masih konsumtif," ujar Basuki ketika membuka Indocomtech, pameran komputer terbesar di Indonesia, dan bahkan di Asia Tenggara, Rabu (3/11/2010) di Jakarta Convention Center.

Dikatakan Basuki, Indonesia harus mencontoh China, negara penduduk terbesar ketiga di dunia, yang berhasil memanfaatkan potensi pasar domestik yang besar untuk mengembangkan industri teknologi informasi domestik. "Sekarang ini, siapa yang tidak kenal Huawei. Belum lagi software aplikasinya. Di Indonesia, jika pameran, demand pasti tinggi. Tapi kita belum bisa memanfaatkannya untuk membangun industri domestik. Ini loss of opportunity yang luar biasa," katanya. "Tapi ini tak usah disesali. Ini tantangan kita. Anggap saja ini PR untuk membangun industri lokal kita," katanya.

sumber : kompas tekno
Continue Reading | komentar

Totalitas Teknologi Informasi "Microfinance"

Rabu, 20 Oktober 2010

Imaji saya, tak lama setelah Komite Nobel 2007 memberikan penghargaan Nobel bidang ekonomi kepada Muhammad Muhammad Yunus, pendiri Grameen Bank di Bangladesh, langsung tertuju ke Tanah Air tercinta. Begitu banyak kesamaan statistikal makro ekonomi yang terjadi di Bangladesh dengan Indonesia. Malahan, setelah saya membaca hasil survei BPS 2010, beberapa indikator di negeri ini lebih baik adanya.

Betapa tidak. Jika angka rata-rata keluarga miskin di Bangladesh mencapai hampir 50 persen, survei BPS menunjukkan tingkat kemiskinan Indonesia sebesar 14,15 persen. Demikian pula tingkat kepemilikan rekening bank.

Data World Bank via publikasi Demirguc-Kunt, Beck dan Honohan, pada 2007 juga mengungkapkan dari 50 juta pemilik account bank di Indonesia, sekitar 20-40 persen diantaranya memiliki lebih dari satu rekening.

Angka ini jauh dari yang terjadi di Bangladesh. Dengan jumlah penduduk miskin lebih banyak, memiliki rekening bank di negeri beribukota Dhaka itu, justru dianggap sebuah kemewahan. Bukan budaya menabung.

Situasi inilah yang membuat munculnya potensi besar dalam lembaga pembiayaan mikro (microfinance). Hal ini terbukti, karena dari 25,13 juta nasabah Grameen Bank pada tahun 2008 lalu, mayoritas berasal dari keluarga tidak mampu.

Dari nasabah tersebut, mengacu penelitian kami di Sharing Vision, tercatat jumlah peminjam/debitur aktif tahunan sebesar 10 juta orang sementara penabung aktif berkisar 9 juta nomor rekening.

Jika dibandingkan, angka ini sangat kompetitif dengan yang diraih BRI, perbankan Tanah Air yang sejak lama fokus di microfinance. BRI pada tahun 2008 lalu memiliki peminjam aktif 8 juta serta penabung aktif 13 juta nomor.

Wajar muncul pertanyaan, mengapa kesuksesan Grameen Bank tersebut, seolah-olah tak kunjung merebak dalam genggaman bangsa ini? Jika melihat indikator sekilas, bukankah sepatutnya kita lebih mudah merealisasikan —bahkan melampauinya?

Berdasarkan riset Sharing Vision dan hasil workshop yang kami lakukan dengan M. Sjahjahan, General Manager Grameen Bank (yang juga deputi Muhammad Yunus), di Singapura, 18-19 Juni lalu, ada dua penyebab utama.

Pertama, implementasi teknologi informasi/TI sebagai ruh aktivitas lembaga keuangan, belum optimal dipraktekkan di berbagai institusi pembiayaan Indonesia. Kalaupun diterapkan, masih banyak yang memandang sebagai cost, bukan investasi.

Saya tidak menampik ada yang membangun dengan optimal. Ambil contoh BPR Karyajatnika Sadaya (BPR KS). Bank mikro terbesar di Jabar ini memiliki 17 kantor cabang, 15 kantor kas, dengan nasabah 360.000 orang, plus fasilitas layanan mumpuni.

Microfinance satu ini memiliki electronic data capture for payment dengan mitra lebih dari 7.000 poin, ATM BPR KS (yang terintegrasi dalam jaringan ATM bersama), Internet/SMS/Phone Banking, dan Automatic Deposit Machine.

Akan tetapi, yang terbaik sekalipun di Indonesia, ternyata kalah dibandingkan Grameen Bank. Sebab, investasi TI perbankan tersebut rata-rata mencapai 100 juta dollar AS per tahun! Sebuah nominal yang belum tentu BUMN keuangan Indonesia menerapkannya.

Dengan 2.564 kantor cabang, 268 kantor area, dan 40 kantor wilayah. Grameen Bank menerapkan aplikasi TI bernama MIFOS alias Microfinance Opensource-yang kesehariannya ditunjang baterai cadangan komputer sehubungan listrik yang kerap mati.

Dengan menerapkan strategi web bertajuk based management information system berkode terbuka, cara ini memungkinkan antar cabang di Grameen melakukan operasional secara real time, efisien, dan amat handal.

Selain perangkat lunak terbuka, kantor menyediakan komputer, baterai, dan akses Internet 56 s.d 512 Kbps. Karenanya, seperti ditulis www.mifos.org, MIFOS berhasil diinstalasi sedikitnya di 120 cabang kantor mencakup 280.000 pengguna.

Dengan totalitas inilah, sambung Shajahan, pada posisi Mei 2010, total deposito Grameen Bank sudah mencapai 1.288 miliar dollar AS sementara nilai kredit yang dipinjamkan 875,08 miliar dollar AS.

Kedua, belum adanya regulasi spesifik dari Bank Indonesia yang mengatur pemanfaatan TI bagi BPR/BPRS. Hal ini membuat proses standarisasi dan pengembangan belum terpayungi aturan terarah dari regulator. Situasi ini membuat belum jelasnya produk/layanan berbasis TI apa saja yang dapat diberikan BPR/BPRS. Juga, belum jelasnya jenis laporan ke Bank Indonesia terkait produk/layanan berbasis TI di BPR/BPRS.

Otomatis ketentuan manajemen resiko TI bagi bank perkreditan rakyat sendiri, boleh disebut, belum total. Padahal, secara natural, tingkat kesadaran keamanan sistem BPR sendiri lebih rendah dari bank umum.

Menyitir PBI No.8/2006 yang menyebutkan kegiatan kas di luar kantor dengan menggunakan ATM yang diselenggarakan sendiri BPR, hanya dapat dilakukan dalam wilayah provinsi yang sama dengan kantor induknya.

PBI itu menetapkan kegiatan payment point dengan areal sama terbatasnya. Sementara dalam kebijakan remittance, BPR hanya dapat bertindak sebagai sub agen layanan jasa keuangan pengiriman uang. Itu pun sebatas incoming transfer.

Atas celah-celah regulasi bagi microfinance semacam BPR/BPRS ini, saya menilai laju dan faedah keuangan mikro di Indonesia masih tertahan. Tidak bisa deras dan massif menolong masyarakat seperti diraih Grameen Bank.

Penulis, Dimitri Mahayana adalah pendiri sekaligus chief lembaga riset telekomunikasi dan informasi berbasis di Bandung, Sharing Vision dan Dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB.

sumber : kompas tekno
Continue Reading | komentar

Telepon Teman Facebook Lewat Skype

Jumat, 15 Oktober 2010

Facebook dan Skype baru saja menyepakati kerja sama integrasi kedua layanan untuk mempermudah komunikasi telepon lewat internet di antara pengguna kedua layanan tersebut. Dalam kesepakatan ini, pengguna Skype dapat mengintegrasikan profil Facebook miliknya sehingga bisa menelepon temannya di Facebook dengan satu kali klik saja.

Pada menu software desktop Skype kini ditambahkan tab Facebook yang menyajikan aliran artikel dan status serta nomor kontak telepon. Jika teman di Facebook menampilkan akun Skype, pengguan dapat langsung menelepon gratis. Jika teman di Facebook tak memiliki akun Skype, pengguna tetap dapat menelepon namun ke nomor ponsel atau nomor lainnya yang terncantum dengan tarif normal.

Kerja sama ini di luar prediksi beberapa sumber bulan lalu yang menyatakan bahwa pengguna Facebook akan dapat menelepon teman dan mengirim SMS lewat halaman profilnya. Meski demikian, Direktur Manajemen Produk Skype Mike Bartlett mengatakan bahwa integrasi kali ini baru tahap awal kerja sama kedua belah pihak. Di masa depan, bukan tidak mungkin hal tersebut terwujud.

Tidak ada perjanjian bagi hasil dalam kerja sama ini. Yang dilakukan Skype hanyalh bentuk integrasi biasa menggunakan plaform Connect yang sudah disediakan Facebook dalam API (application programming interface). Hanya saja, Facebook mengizinkan Skype mengakses data kontak telepon pengguna. Fitur ini tersedia di software Skype versi 5.0.

sumber : kompas tekno


Continue Reading | komentar

Layanan HDTV dan VOD Pertama di Indonesia

Senin, 27 September 2010

First Media meluncurkan layanan High Definition Television (HDTV) dan Video on Demand (VOD) pertama di Indonesia. Layanan tersebut diluncurkan First Media dengan menggandeng Advanced Digital Broadcast yang berpusat di Geneva, Swiss selaku produsen Set Top Box (STB) dan pendukung sistem dan aplikasi VOD.

Peluncuran resmi layanan tersebut dilaksanakan Jumat (24/9/2010) lalu dengan dihadiri Jonathan Spink, CEO HBO Asia. First Media adalah penyedia TV berbayar Indonesia pertama yang menghadirkan saluran HBO HD. Saat ini First Media baru menawarkan dua saluran HD yaitu HBO HD dan ESPN HD.

President Direktur First Media Hengkie Liwanto mengatakan First Media dan ADB sudah menyediakan 5.000 STB untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, Namun selama masa percobaan baru 500 STB yang akan didistribusikan. Layanan HD tersebut sebenarnya sudah ditawarkan sejak bulan Agustus namun saat ini masih dalam tahap percobaan.

Untuk meningkatkan kualitas layanan First Media sudah menganggarkan 50 juta hingga 70 juta dollar AS dari belanja modal mereka, termasuk untuk mempersiapkan layanan HD ini.
Hengkie mengaku saat ini jumlah pelanggan mereka sudah lebih dari 350.000. "Jumlah pelanggan yang menikmati layanan HD saat ini belum sampai memenuhi kuota 500 STB yang kami tetapkan selama masa percobaan," jelas Hengkie.(KONTAN/Indira Prana Ning Dyah)

sumber : kompas tekno
Continue Reading | komentar

Jepang Kalahkan Indonesia dalam Jumlah Pengguna Twitter?

Selasa, 21 September 2010

Indonesia selama ini dikenal sebagai pengguna Twitter terbesar di Asia. Namun, berita terbaru yang dilansir Asian Correspondent menyebutkan bahwa posisi itu telah diambil alih Jepang. Bukannya bergeser ke nomor dua, Indonesia malah terpuruk ke urutan tiga karena pengguna di India meningkat pesat sehingga menyalip Indonesia.

"Beberapa minggu lalu saya melaporkan bahwa menurut data comScore, Indonesia adalah pengguna Twitter terbesar. Namun, menggunakan data yang sama, saya menghitung perkiraan jumlah pengguna Twitter di 11 negara kunci di Asia, dan hasilnya adalah Jepang saat ini merupakan pengguna Twitter terbesar, mengambil alih posisi Indonesia yang turun ke peringkat ketiga di bawah India," tulis Jon Russell dalam laporannya, Rabu (22/9/2010).

Menurut data comScore, pengguna Twitter di Jepang mencapai 16.124.472 akun yang merupakan 16,8 persen dari populasi online-nya dan 12,69 persen populasi Jepang. Sedangkan India memiliki 6.480.000 pengguna atau 8 persen dari populasi online-nya dan 0,56 persen populasi penduduknya, di atas Indonesia dengan 6.240.000 pengguna atau 20,8 persen dari populasi online dan 2,60 persen populasi penduduknya.

Melihat data tersebut, Indonesia merupakan negara pengguna Twitter terbesar di antara populasi orang yang menggunakan internet. Sementara Jepang memiliki pengguna Twitter terbanyak di antara populasi penduduknya, atau lebih dari satu pengguna banding 10 penduduk.

Meski demikian, data itu tidak bisa dijadikan acuan yang paling akurat karena disebutkan bahwa comScore tidak menghitung data pengguna dari peranti mobile ataupun kafe internet.

sumber : kompas tekno
Continue Reading | komentar

Comment Via Facebook

Download

Download youtube Video

Random Post

.:: NEW COMMENT ::.

Popular Posts Today

Entertainment

IP

Pengunjung

ThirtyThirty hotel
Powered by Best Free Counters

Top Site

Top 100 Gadget Blogs

Followers

Download

Your Links


Top Site


 
Support : Creating Website | Johny Template | Maskolis | Johny Portal | Johny Magazine | Johny News | Johny Demosite
Copyright © 2011.
.:: IT HOME SOLUTION ::.
- All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger